Saat Layar Menyala, Hati Anak-Anak Itu Pun disentuh: Nobar Film Cyberbullying yang Mengajarkan Arti Empati di Dunia Maya

Senin pagi yang cerah, 13 Oktober 2025 ada sesuatu yang baru di kegiatan anak-anak kelas 4, 5, dan 6 SDIT IQRA. Mereka tidak menuju ruang kelas, bukan pula bersiap mengikuti pelajaran seperti biasa. Hari itu, mereka menuju Cinepolis, bukan untuk sekadar menonton film, tetapi untuk belajar tentang hati, empati, dan tanggung jawab di dunia digital.

Film yang diputar berjudul Cyberbullying — kisah yang sederhana, namun sarat makna. Di balik cahaya layar besar dan alunan suara yang menggema, terselip pelajaran kehidupan: bahwa kata-kata yang diketik bisa lebih tajam dari pisau, dan senyum yang hilang di dunia maya bisa berawal dari kalimat yang tampak sepele.

Anak-anak menonton dengan diam, sebagian menunduk, sebagian menatap layar dengan serius. Film itu menggambarkan betapa mudahnya seseorang merasa sendirian di tengah keramaian digital, betapa cepatnya jari bisa melukai tanpa disadari. Dan di sanalah, pelajaran sejati dimulai — bukan dari teori, tapi dari rasa yang tumbuh di dada mereka.

Ketika film usai, banyak yang berkomentar, saling bertatapan dan ada juga yang merenung.

Aku nggak nyangka, komentar kecil bisa bikin orang segitu sedihnya…” bisik seorang siswa pada temannya.

“ini seperti pelajaran TIK dikelas kita ya filmnya, etika berinternet ” kata siswa kelas 5 juga pada temannya

Ucapan polos itu mungkin terdengar sederhana, namun di baliknya ada kesadaran yang mulai tumbuh, kesadaran bahwa di balik setiap layar ada hati yang bisa terluka. Kegiatan nobar ini menjadi bagian dari upaya SDIT IQRA untuk menanamkan literasi digital yang beradab dan berhati. Karena di zaman ketika teknologi menjadi bagian dari kehidupan, yang paling penting bukan sekadar tahu cara menggunakannya, tapi bagaimana tetap menjadi manusia yang berempati di dalamnya.

Film Cyberbullying bukan hanya tontonan. Ia adalah cermin. Cermin yang memantulkan wajah kita sendiri saat berselancar di dunia maya. Dan di pantulan itu, semoga anak-anak kita belajar bahwa menjadi “hebat” di internet bukan soal kepopuleran, tapi tentang bagaimana kita menjaga hati dan menghargai orang lain, bahkan di balik layar.

Cyberbullying?? NO WAY!!!!